Setan-Setan Kecil

Cerita dan absurditas setan-setan kecil
Setan-setan kecil

Aku bisa saja mencintaimu seperti Sartre pada De Beauvoir. Kau akan bercinta di sudut-sudut kota dan datang padaku di malam hari. Aku tentu menjamumu layaknya kekasih, setiamu membelai rambutku disela canda berdua, mengajakku minum kopi karna kita tau Diskusi akan mengambil seluruh waktu kita.

Atau, aku bisa sekalian membencimu seperti Schopenhauer membenci para Wanita. Melihat wanita sebagai dalang kegagalan dan kelemahan, penghancur dan perusak moralitas.

Sayangnya, ini bukan melulu soal prinsip dan Ideologi. Ini tentang Setan-Setan Kecil, Setan yang menina bobo Rasio dan membangungkan Kecemasan, dimana ketakutan dan keraguan saling bertumbuh subur tanpa harus kau “piara”. Ia pula yang akan mengangkat Libido Freudian-mu yang harusnya sudah lapuk jadi tanah.

“Dimana Setan yang lain?” Seketika kawanku bertanya. Aku bilang saja dia sedang bergelantungan di ujung urat-urat hatimu dia akan mengganggu tidurmu dan kau akan bilang ini karna kopi, dia akan mengganggu pantatmu ketika kau duduk dan kau bilang aku ada urusan, menusuk punggungmu ketika tidur dan kau bilang saya tidak mengantuk. Itu semua karena dia ingin kau berleha-leha dengan Fantasi dan Harapan.

“Lalu dimana lagi yang lain?” Tanyanya kemudian.

“Apa yang sedang kau fikirkan ?”

“Apa yang sering kau fikirkan?” Jawabku singkat. Itu seperti nada pertanyaan Facebook di dalam kotak textarea status, dan ya, itulah Setangnya. Sepertinya Mark Zuckerberg ingin pengguna facebook menyebar setan-setan di beranda kawan-kawan, menyukainya lalu membagikannya sampai ribuan kali, Kecuali tulisan ini, ini tentu saja bukanlah salah satu setan-setanku.

Akan ada yang terenyuh, tertawa, nangis, bangga, jijik, malu, berani, sebagian lagi berakhir bunuh diri, itupun bunuh dirinya sambil video call dengan kekasih.

Yang ini setan-setannya begitu imut dan cantik, polos lagi. Dia tidak akan jauh-jauh darimu seperti pacarmu yang setia menanyakan kabarmu, mengurusi makananmu dan membatasi aktifitasmu serta segala embel embel perhatian yang terpaksa.

Nikmat apalagi yang akan didustai dari ini? Kecuali Nikmat si-“ono”mu, kalian lebihlah ahli dan pengalaman, misalnya tentang bau kekasih, mulus dan putihnya, basah dan geliatnya kau sudah sangat hafal dan memahaminya dan itu sudah cukup untuk memanggil sekumpulan setan-setan kecilmu merengek “ingin lagi dan lagi-lagi dong ah”, serbuan Kecemasan yang mulai hilang ketika nafas mulai memburu, sebagia lagi tentang penyesalan, penyesalan akan noda yang insyaAllah sia-sia. Sesekali pun ketakutan berakhir akan datang menghinggapi tubuh yang masih sedang lemas sedang-sedang itu.

Kondisi ini benar-benar asyik, maka aku ingin memilih untuk tidak mencintaimu saja-lah. Meski perih pedih toh setan-setanku akan perih bersamaku. Tidak seperti kau, suka berperih-perih sendiri kadang mendesah-desah sendiri dan besoknya jalan santai dengan setan-setan yang lain. 

Aku yakin itu akan berakhir lagi di kamar-kamar sepi bersama rintih dan lenguhan yang tertahan karena perjumpaan setan-setan yang sama-sama sedang kepanasan…

Aku benar benar malas menulis

14 nov 17.

Iklan

Tao-Tao Kekalahan di Negri Ranting

Linguag3-tao tao kekalahan
Tao-Tao kekalahan

Aku selalu ingin mengangkat bidak mata-mata, menempatkannya diluar arena dan memaksanya jadi Mata Dewa. Ini bukan taktik mengamati lalu menghancurkan. Kami hanya sekumpulan ranting yang bertengger pada cabang-cabang yang rusak. Dari kami berdiri puluhan kepentingan dan perbedaan yang merugikan.

Sebenarnya, ini satu dari sekian seruan keuntungan. Jika dari sepuluh mereka melakukan hal yang sama, takkan ada keraguan. Apa yang kami lihat akan dapat mereka saksikan dan tentu mereka iyakan.

Sun tzu pernah mengatakan perihal Tao kekalahan dan kami tak ingin kekalahan secara massal. Tao-Tao kekalahan itu Sun Tzu sebut sebagai Terkurung, Kekacauan, Bergerak Ke bawah, dan Busur tanpa Tali. Dari pertempuran yang akan terjadi, kami bisa tebak tidak ada keuntungan dan ini berarti terjebak. Satu-satu dari kami muncul dan tidak ada jalan pulang. Kelompok-kelompok kami ramai tetapi pejabatnya lemah ini berarti Busur tak bertali. Dan yang paling menyedihkan para Jendral seperti mengidap syndrom kekacauan yang akut. Jika hal ini kami biarkan, maka dapat dipastikan kami hanya akan melakukan kesia-siaan yang berulang.

Apa yang sebenarnya kami perjuangkan dari sebuah pertempuran melawan saudara dan kebodohan ? Jika ingin kuberitau kami benar-benar tidak ingin. Tetapi bisakah kami menyerahan medali kemenangan pada kelompok yang hanya memperjuangkan kepentingannya masing-masing? 

Saudaraku, para Jendralnya benar-benar “tertarik ke bawah” perjuangannya penuh amarah dan nafsu kemenangan. Sun Tzu pernah mengatakan, bahwa seratus kemenangan dari seratus pertempuran sesungguhnya bukanlah kemenangan sejati, kemenangan itu adalah kemenangan yang diraih tanpa harus bertempur, kami benar-benar ingin ini terwujud pada dunia Ranting yang sudah hampir jatuh dan kering.

Percayalah, tak ada yang pantas kami lawan dan tak ada yang pantas kami menangkan disini. Karena kami adalah bidak-bidak yang terlahir dari moyang yang sama, hidup dari semangat yang seharusnya sama.

Dari Mata Dewa aku tau tak ada pertarungan yang pantas apalagi kemenangan disini. Tetapi jika para Jendral dan pejabat para kelompok tak mampu menyaksikan penglihatan Mata Dewa, maka jalan yang ada akan tetap kita lalui. Tao-Tao kemenangan akan turun, metode penyerangan akan turun, Jendral terampil akan menang.

Mks 31 oktober 2017.

MARTIR

Linguag3-martir
Martir

Oh Martir, sekali tetak kalian pun teduh bersama Tanah, bersama lapuk diinjak kaki-kaki terhormat.

Martir, itu bukan untuk “Kalian”, itu untuk “Dia”.

Dia yang lancang berkuasa pada jalan hati.

Martir, menghormatinya adalah keharusan, pada  kekasihmu yang lahir dari rusuk kasih sayang

Martir, …
Aku benar benar malas menulis

24/10/17.