Kita Terlerai

Kita berawal menembus jurang 

Menjejak gunung tersengal maya.

Batang batang ilalang itu

Tumbuh dilayan batu batu membara.

Tak cerai tak melayang

Diceburi titisan jarang jarang.

Bak lah umpama,

Berakhir kita punggungi hampar daratan.

Tak menoleh, 

Kita terlerai

Sekali Lagi Tentang Kita

Sekali Lagi tentang kita Manisku.. Dan memang lagi lagi tentang kita.. Kita yang suka meringkuk diam dipusaran tanda tanya


Pukul 01.26 disisi bekas dapur diatas kursi tua, terus menetap dan membeku, sepasang gelas jenjang plastik dan satu alat masak karatan antarkan renungan gusar sekali lagi tentang kita.

Setelah pesan terakhir dipembaringan 20 menit lalu, kita telah gamang dalam dililitan beku kasih. kita telah bincang kewajaran hak yang menyalahi aturan cinta. Memang kita yang aneh disimpangan ego dan kegilaan

Ujar ujar dingin terus susupi lorong lorong malam dan kita jemput diruang dua jarak yang berbeda lantas tertatih kita seret makna ke beranda altar “aku”.

Jika disudut bibirmu enggang riakkan pusaran senyum, maka jangan tasbihkan rela dibelanga teks. Itu bisa remukkan lembaran tawa ditiap titik pertemuan kita.

20 menit berlalu, asap terus mengepul diruang remang dan pengap. Dua sosok tergeletak lelap saling memunggungi, dan dikursi tua ini terus terurai mantra pengantar fajar.

Tepat 02.00 kita sudahi saja lagi lagi tentang kita, kita yang pucat dan kering diantara bulir bulir cahaya kasih…

Mks/16/11/14